KEGILAAN TRUMP & ANCAMAN PERANG NUKLIR Oleh: Dr. Yosminaldi, SH.MM (Pemerhati Hubungan Internasional)
"Jika
tidak ada yang menakuti saya sebagai pemimpin, maka saya tidak ada
artinya." - Lee Kuan Yew
Donald Trump dengan kekuasaan resmi sebagai Presiden AS, benar2 telah memenuhi janji2 kampanyenya untuk meraih jabatan Presiden untuk kedua kalinya dengan jargon "Make America Great Again".
Trump yang urakan
dan diduga memiliki kondisi kejiwaan "tak stabil" menurut sejumlah
Psikolog AS ini telah membuat tindakan2 "anti mainstream" bahkan
melanggar hukum internasional dan piagam PBB.
Setelah menangkap
Presiden Venezuela Nicolas Maduro melalui cara2 "preman" dengan
memasuki pekarangan rumah orang (wilayah negara berdaulat Venezuela), Trump
bersama konco terdekatnya yang juga "haus wilayah" dan berjiwa
"genocide" Israel, melakukan penyerangan sepihak terhadap Iran
setelah melakukan beragam intimidasi militer, ekonomi dan beragam strategi
lainnya terhadap negeri Persia ini. Walhasil, Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah
Ali Khamenei tewas bersama keluarga besar setelah komplek kediamannya dihujani
rudal gabungan AS - Israel.
Tindakan brutal yang tak satupun aturan hukum dan etika membolehkan hal ini, telah dilakukan Trump dan Netanyahu tanpa sedikitpun merasa bersalah dan cuek dengan kecaman keras banyak negara. Bahkan Trump dan Netanyahu menyebut Iran sebagai negara teroris yang mengancam keamanan dunia dengan pengayaan uranium yang jelas2 tak terbukti secara verifikatif oleh Lembaga IAEA yang bernaung dibawah PBB.
Kenapa Trump (AS) begitu benci dan selalu memperlihatkan ketidaksukaan dengan Iran?
Dukungan Amerika
Serikat terhadap Shah kemudian menjadi salah satu pemicu utama Revolusi Iran
pada 1979, yang mengubah Iran menjadi Republik Islam di bawah kepemimpinan
Ayatollah Khomeini dan secara terbuka menentang dominasi AS di Timur Tengah.
Ketegangan
memuncak pada krisis penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran (1979-1981).
Peristiwa ini berujung pada pemutusan hubungan diplomatik antara kedua negara
serta pemberlakuan sanksi ekonomi.
Perang Iran-Irak
selanjutnya menjadi salah satu konflik paling berdarah di Timur Tengah pada
abad ke-20. Iran menghadapi invasi dari Irak yang dipimpin Saddam Hussein, yang
khawatir revolusi Islam Iran akan menyebar ke negaranya.
Meskipun Amerika Serikat tidak terlibat langsung di medan perang, Washington tetap memberikan dukungan intelijen, persenjataan, dan logistik kepada Irak sebagai bagian dari strategi untuk menahan pengaruh revolusioner Iran di kawasan timur-tengah
SALAH PILIH PEMIMPIN
Pemimpin adalah
sosok yang menjadi "tulang punggung" suatu organisasi apapun. Apakah
Pemimpin dalam sebuah kelompok kerja, proyek, komunitas, bisnis, kerja sosial,
politik, pemerintahan bahkan negara, memiliki peran sangat penting sebagai "problem
solver & decision maker", pengarah, pengatur strategi, pemotivasi,
perencana, penggerak dan "role model" alias pemberi keteladanan
kepada anak buah, tim bahkan anggota atau rakyat di suatu negara.
Tim, organisasi
bahkan negara tanpa ada Pemimpin, secara realitas bisa saja berjalan
sebagaimana mestinya, namun sekumpulan orang yang bekerja untuk meraih tujuan
bersama (organisasi) tanpa diarahkan dan dikendalikan oleh seorang Pemimpin,
maka tujuan bersama tersebut akan bisa dimaknai secara subjektif dan
fragmentaris oleh para anggota tim bahkan rakyat sebuah negara.
Sekumpulan orang
tanpa Pemimpin, seperti anak ayam kehilangan induk. Situasi tanpa ada pemimpin
(leaderless) dalam suatu kelompok atau organisasi, dapat menimbulkan dampak
yang signifikan, mulai dari kekacauan hingga munculnya swakelola mandiri yang
bisa mengarah kepada terjadinya disintegrasi (perpecahan).
Secara umum,
Pemimpin dianggap sebagai arsitek utama dalam menjalankan visi dan tujuan
organisasi (negara), sehingga ketiadaan sosok pemimpin, akan menyebabkan
kelompok terombang-ambing dalam kebingungan tanp arah.
Meski keberadaan
pemimpin itu mutlak diperlukan, namun Nabi Muhammad SAW mewanti-wanti umatnya
untuk tidak sembarangan mengangkat pemimpin. Salah satu yang dikhawatirkan Nabi
atas umatnya adalah salah dalam mengangkat pemimpin. Hal ini terlihat dari hadits
riwayat Tsauban RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ
عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ
“Sesungguhnya,
yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah para pemimpin yang menyesatkan”.
[HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi].
Kembali ke topik
tentang sikap, perilaku dan keputusan2 yang diambil Trump sebagai Pemimpin,
terlihat sekali "ketidakwarasan", arogansi kekuasaan dan
kesewenang-wenangan dalam setiap pengambilan 0keputusan. Penangkapan Maduro di
negaranya sendiri (Venezuela), keputusan tarif impor perdagangan internasional
yang sangat "egoistik" tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap
perekonomian dunia, serta invasi AS ke Iran bersama Israel adalah beberapa
contoh keputusan dan tindakan yang sangat merusak tatanan perekonomian dan
perdamaian dunia.
Trump dengan
kekuasaan besar sebagai Presiden AS, didukung kekuatan militer terkuat di
dunia, secara serampangan menggunakan keunggulan tersebut untuk mewujudkan
nafsu "haus dan gila" untuk menguasai segala sisi yang bisa
menguntungkan AS tanpa sedikitpun mengindahkan etika diplomasi bahkan hukum
internasional serta piagam PBB.
Kepribadian yang
berisikan perilaku, pola pikir dan emosi, sangat mempengaruhi seorang Pemimpin
dalam setiap pengambilan keputusan (Schermerhorn et all, 2011). Artinya, sosok
karakter, perilaku bahkan stabilitas kejiwaan setiap calon pemimpin, harus benar2
menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum dipilih oleh rakyatnya menjadu
Presiden. Salah dalam memilih Pemimpin, apalagi Pemimpin Negara besar sekelas
AS yang memiliki sumber daya luar biasa besar, justru akan memberikan dampak
luas terhadap tatanan perekonomian dan perdamaian dunia.
Perang Iran vs
AS-Israel makin meluas dan bahkan bisa melibatkan sejumlah sekutu AS di NATO.
Tentu saja akan bisa menyeret Rusia dan China dalam perang di Timur - Tengah
tersebut menjadi Perang Dunia III. Hal ini yang sangat kita kawatirkan. Hanya
karena "blunder" haus kuasa dan dendam kesumat Trump yang tanpa
memperhitungkan dampak jangka panjang yang sangat penuh risiko, penggunaan
senjata nuklir dalam peperangan, bisa jadi terwujud dan diprediksi 80% umat
manusia di muka bumi akan musnah.
Tak ada yang akan
diuntungkan dengan perang! Menang jadi abu kalah jadi arang!
Semoga para
Pemimpin dunia bisa menahan diri dan tak terjebak dalam egoisme sempit dan
arogansi irrasional!
Komentar
Posting Komentar