KEGILAAN TRUMP & ANCAMAN PERANG NUKLIR Oleh: Dr. Yosminaldi, SH.MM (Pemerhati Hubungan Internasional)

 

"Jika tidak ada yang menakuti saya sebagai pemimpin, maka saya tidak ada artinya." - Lee Kuan Yew

Donald Trump dengan kekuasaan resmi sebagai Presiden AS, benar2 telah memenuhi janji2 kampanyenya untuk meraih jabatan Presiden untuk kedua kalinya dengan jargon "Make America Great Again".

Trump yang urakan dan diduga memiliki kondisi kejiwaan "tak stabil" menurut sejumlah Psikolog AS ini telah membuat tindakan2 "anti mainstream" bahkan melanggar hukum internasional dan piagam PBB.

Setelah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro melalui cara2 "preman" dengan memasuki pekarangan rumah orang (wilayah negara berdaulat Venezuela), Trump bersama konco terdekatnya yang juga "haus wilayah" dan berjiwa "genocide" Israel, melakukan penyerangan sepihak terhadap Iran setelah melakukan beragam intimidasi militer, ekonomi dan beragam strategi lainnya terhadap negeri Persia ini. Walhasil, Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas bersama keluarga besar setelah komplek kediamannya dihujani rudal gabungan AS - Israel.

Tindakan brutal yang tak satupun aturan hukum dan etika membolehkan hal ini, telah dilakukan Trump dan Netanyahu tanpa sedikitpun merasa bersalah dan cuek dengan kecaman keras banyak negara. Bahkan Trump dan Netanyahu menyebut Iran sebagai negara teroris yang mengancam keamanan dunia dengan pengayaan uranium yang jelas2 tak terbukti secara verifikatif oleh Lembaga IAEA yang bernaung dibawah PBB.

Kenapa Trump (AS) begitu benci dan selalu memperlihatkan ketidaksukaan dengan Iran?

 Permusuhan AS - Iran bermula pada 1953, ketika badan intelijen AS yakni Central Intelligence Agency (CIA) membantu menggulingkan Perdana Menteri Iran, Mohammad Mossadeq yang menasionalisasi industri minyak. Kudeta tersebut mengembalikan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlevi yang pro-Barat, namun sosoknya sangat tidak populer di dalam negeri.

Dukungan Amerika Serikat terhadap Shah kemudian menjadi salah satu pemicu utama Revolusi Iran pada 1979, yang mengubah Iran menjadi Republik Islam di bawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini dan secara terbuka menentang dominasi AS di Timur Tengah.

Ketegangan memuncak pada krisis penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran (1979-1981). Peristiwa ini berujung pada pemutusan hubungan diplomatik antara kedua negara serta pemberlakuan sanksi ekonomi.

Perang Iran-Irak selanjutnya menjadi salah satu konflik paling berdarah di Timur Tengah pada abad ke-20. Iran menghadapi invasi dari Irak yang dipimpin Saddam Hussein, yang khawatir revolusi Islam Iran akan menyebar ke negaranya.

Meskipun Amerika Serikat tidak terlibat langsung di medan perang, Washington tetap memberikan dukungan intelijen, persenjataan, dan logistik kepada Irak sebagai bagian dari strategi untuk menahan pengaruh revolusioner Iran di kawasan timur-tengah

SALAH PILIH PEMIMPIN

Pemimpin adalah sosok yang menjadi "tulang punggung" suatu organisasi apapun. Apakah Pemimpin dalam sebuah kelompok kerja, proyek, komunitas, bisnis, kerja sosial, politik, pemerintahan bahkan negara, memiliki peran sangat penting sebagai "problem solver & decision maker", pengarah, pengatur strategi, pemotivasi, perencana, penggerak dan "role model" alias pemberi keteladanan kepada anak buah, tim bahkan anggota atau rakyat di suatu negara.  

Tim, organisasi bahkan negara tanpa ada Pemimpin, secara realitas bisa saja berjalan sebagaimana mestinya, namun sekumpulan orang yang bekerja untuk meraih tujuan bersama (organisasi) tanpa diarahkan dan dikendalikan oleh seorang Pemimpin, maka tujuan bersama tersebut akan bisa dimaknai secara subjektif dan fragmentaris oleh para anggota tim bahkan rakyat sebuah negara.

Sekumpulan orang tanpa Pemimpin, seperti anak ayam kehilangan induk. Situasi tanpa ada pemimpin (leaderless) dalam suatu kelompok atau organisasi, dapat menimbulkan dampak yang signifikan, mulai dari kekacauan hingga munculnya swakelola mandiri yang bisa mengarah kepada terjadinya disintegrasi (perpecahan).

Secara umum, Pemimpin dianggap sebagai arsitek utama dalam menjalankan visi dan tujuan organisasi (negara), sehingga ketiadaan sosok pemimpin, akan menyebabkan kelompok terombang-ambing dalam kebingungan tanp arah.

Meski keberadaan pemimpin itu mutlak diperlukan, namun Nabi Muhammad SAW mewanti-wanti umatnya untuk tidak sembarangan mengangkat pemimpin. Salah satu yang dikhawatirkan Nabi atas umatnya adalah salah dalam mengangkat pemimpin. Hal ini terlihat dari hadits riwayat Tsauban RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

“Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah para pemimpin yang menyesatkan”. [HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi].

Kembali ke topik tentang sikap, perilaku dan keputusan2 yang diambil Trump sebagai Pemimpin, terlihat sekali "ketidakwarasan", arogansi kekuasaan dan kesewenang-wenangan dalam setiap pengambilan 0keputusan. Penangkapan Maduro di negaranya sendiri (Venezuela), keputusan tarif impor perdagangan internasional yang sangat "egoistik" tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap perekonomian dunia, serta invasi AS ke Iran bersama Israel adalah beberapa contoh keputusan dan tindakan yang sangat merusak tatanan perekonomian dan perdamaian dunia.

Trump dengan kekuasaan besar sebagai Presiden AS, didukung kekuatan militer terkuat di dunia, secara serampangan menggunakan keunggulan tersebut untuk mewujudkan nafsu "haus dan gila" untuk menguasai segala sisi yang bisa menguntungkan AS tanpa sedikitpun mengindahkan etika diplomasi bahkan hukum internasional serta piagam PBB.

Kepribadian yang berisikan perilaku, pola pikir dan emosi, sangat mempengaruhi seorang Pemimpin dalam setiap pengambilan keputusan (Schermerhorn et all, 2011). Artinya, sosok karakter, perilaku bahkan stabilitas kejiwaan setiap calon pemimpin, harus benar2 menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum dipilih oleh rakyatnya menjadu Presiden. Salah dalam memilih Pemimpin, apalagi Pemimpin Negara besar sekelas AS yang memiliki sumber daya luar biasa besar, justru akan memberikan dampak luas terhadap tatanan perekonomian dan perdamaian dunia.

Perang Iran vs AS-Israel makin meluas dan bahkan bisa melibatkan sejumlah sekutu AS di NATO. Tentu saja akan bisa menyeret Rusia dan China dalam perang di Timur - Tengah tersebut menjadi Perang Dunia III. Hal ini yang sangat kita kawatirkan. Hanya karena "blunder" haus kuasa dan dendam kesumat Trump yang tanpa memperhitungkan dampak jangka panjang yang sangat penuh risiko, penggunaan senjata nuklir dalam peperangan, bisa jadi terwujud dan diprediksi 80% umat manusia di muka bumi akan musnah.

Tak ada yang akan diuntungkan dengan perang! Menang jadi abu kalah jadi arang!

Semoga para Pemimpin dunia bisa menahan diri dan tak terjebak dalam egoisme sempit dan arogansi irrasional!

 Bekasi, 06 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DILEMMA KEKUASAAN EKSEKUTIF: POLITIK AKOMODATIF VS POLITIK OPOSISI Penulis: Dr. Yosminaldi, SH.MM (Pemerhati Politik, Demokrasi & Hukum)

PENGANGGURAN: QUO VADIS DUNIA KETENAGAKERJAAN RI? Oleh: Dr. Yosminaldi, SH.MM (Ketua Umum ASPHRI, Dosen MSDM-HI & Pengamat Ketenagakerjaan)

PRAGMATISME POLITIK KITA: IDEALISME TERGADAIKAN, ETIKA TERABAIKAN Penulis: Dr. Yosminaldi, SH. MM (Pemerhati Politik, Demokrasi & Hukum)