SEKALI LAGI, TENTANG INTEGRITAS Penulis; Dr. Yosminaldi, SH.MM (Pemerhati Politik, Hukum & Demokrasi)
"Memang benar bahwa integritas saja tidak akan menjadikanmu seorang pemimpin, tetapi tanpa integritas, kamu tidak akan pernah menjadi pemimpin." - Zig Ziglar
Hampir semua orang, pasti menyetujui INTEGRITAS sebagai urutan pertama dalam kehidupan sosial. Banyak aspek2 utama yang harus dipenuhi, jika kita ingin sukses dalam menjalin dan merawat hubungan dengan setiap orang. Misalnya saja kemampuan berkomunikasi (communication skill), kerjasama dalam tim (teamwork), kemampuan memimpin (leadership skill), kontrol emosi (emotional control skill), rasa empati dan banyak lagi.
Namun, integritas adalah fondasi atau dasar paling penting untuk keberlanjutan hubungan sosial seseorang. Sederhananya, orang yang tak memiliki integritas, pasti tak akan bisa dipercaya (lagi) oleh orang lain. Apalagi untuk menjadi seorang Pemimpin yang notabene adalah panutan dan teladan, integritas adalah aspek "conditio sine qua non" yang tak bisa ditawar!
Lalu, apa makna sesungguhnya tentang Integritas? Kenapa integritas begitu maha penting dalam relasi sosial, apalagi untuk seorang Pemimpin? Betulkah kita defisit Pemimpin2 yang berintegritas?
Mari kita kupas lebih lengkap.
BUDAYA INTEGRITAS
Tak bisa disangkal lagi, budaya integritas kita makin merosot. Integritas tak bisa dipisahkan dari sistem etika, moralitas dan keadaban. Salah satu petunjuk bobroknya budaya integritas adalah makin maraknya pungli, korupsi, kolusi dan nepotisme (PKKN). Tentu saja kerusakan moralitas ini tak bisa dilepaskan dari keteladanan Para Pemimpin.
Banyak para Pemimpin di negeri ini memberikan contoh sikap dan perilaku anti integritas. Mudah mengobral janji2 dalam kampanye politik, namun "hilang ditelan angin" setelah mendapatkan jabatan. Mereka "lupa daratan". Jabatan yang telah didapatkan, justru seperti "milik sendiri", bukan dijadikan amanah dari rakyat pemilih yang telah memberikan kepercayaan dan mandat.
Secara faktual, "jauh panggang dari api". Kejadian2 KKN di negeri ini tak pernah tuntas. Hampir semua Pejabat kita pintar dalam retorika politik, namun banyak yang mengabaikan aspirasi rakyat. Walhasil, hampir setiap hari drama2 korupsi yang notabene dilakukan manusia2 tak berintegritas, selalu berulang dan menjadi bagian dalam tradisi dan budaya politik di negeri ini.
Berbicara tentang integritas, berasal dari kata latin “Intiger” yang berarti utuh dan lengkap. Jadi integritas membutuhkan perasaan batin yang mengungkapkan integritas dan konsistensi karakter. Singkatnya, integritas berarti konsep konsistensi tindakan, nilai, metode, ukuran, prinsip, harapan, dan hasil. Dalam etika, integritas dianggap jujur dan adil atau benar dalam tindakan seseorang.
Ada seorang ahli mendefinisikan integritas sebagai tiga hal yang selalu dapat kita pegang teguh: tetap berkomitmen, jujur, dan melakukan sesuatu secara konsisten. Integritas mengacu pada konsistensi antara kata-kata dan keyakinan yang tercermin dalam tindakan sehari-hari.
Terkadang orang hanya berbicara di bibir, sementara hatinya dipenuhi dengan kesombongan, kecemburuan, dendam, dan emosi. Orang yang berintegritas sering berpikir sebelum berbicara sehingga perilaku dan tindakan mereka konsisten dengan apa yang dikatakan.
Rasanya kurang lengkap jika kita tidak memahami makna integritas berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Integritas dalam KBBI adalah kualitas, sifat atau kondisi yang memanifestasikan suatu kesatuan, sehingga memiliki potensi dan kapasitas untuk menjalankan otoritas dan kejujuran.
Ketika kita memiliki harga diri yang tinggi, orang-orang di sekitar kita dapat melihatnya melalui tindakan, kata-kata, keputusan, metode, dan hasil kita. Begitu pula ketika kita menjadi manusia yang utuh dan koheren, dimanapun kita berada dan dalam kondisi apapun, hanya ada satu. Kita tidak akan pernah meninggalkan sebagian dari diri kita dalam keadaan lain, karena kita telah menjadi pribadi yang kohesif. Dengan kata lain, Anda selalu menjadi diri sendiri.
Socrates berkata, “Dengan pikiran, seseorang dapat membuat dunia berkembang atau berduri.” Jadi Anda adalah apa yang Anda pikirkan. Berpikir bahagia membuat Anda bahagia, berpikir Anda tidak bisa membuat Anda tidak bisa. Pikiran bisa membuat Anda kompeten dan pikiran berani membuat Anda berani.
Seperti yang dikatakan Dr. Ibrahim Elfiky, pikiran positif menciptakan tindakan dan hasil yang positif. Integritas harus dimulai dengan berpikir positif. Pemikir positif mengucapkan kata-kata positif dan berperilaku serta bertindak positif. Berpikirlah positif, maka segala sesuatu di sekitar Anda juga akan tampak positif.
Setelah memikirkannya, saatnya mengucapkan sepatah kata. Kata-kata dapat mengungkapkan kualitas seseorang. Kata-kata bersifat magis karena dapat mempengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak. Pemilihan kata yang tepat dapat menginspirasi orang untuk lebih bersemangat dalam bekerja. Kata-kata hati nurani akan memotivasinya untuk berperilaku dan bertindak dengan cara yang benar dan tepat. Sebaliknya, perkataan yang tidak sesuai dengan hati nurani dapat menimbulkan perilaku dan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Terakhir, apa yang Anda katakan harus diungkapkan dalam perilaku dan tindakan yang baik dan adil dengan tetap menghormati kode etik dan prinsip-prinsip etika. Berperilaku dan bertindak dengan bermartabat dan berintegritas merupakan satu kesatuan yang menjadi standar bagi pegawai dalam melaksanakan tugasnya.
Dari penjelasan diatas, sangat disarankan untuk setiap retret ataupun pengarahan2 kepada calon2 Pemimpin, Pejabat dan Kaum elit di negeri ini, aspek Integritas harus menjadi kurikulum utama sebelum bicara hal2 teknis pekerjaan yang sesungguhnya dilakukan oleh anggota team atau bawahan.
Tugas Pemimpin adalah memberikan KETELADANAN! Integritas menjadi bagian penting dalam sikap keteladanan, karena memperlihatkan sikap konsisten, jujur dan "walk the talk"!
Bekasi, 24 Agustus 2025
Komentar
Posting Komentar