MANUVER POLITIK JOKOWI: PRESIDEN UNTUK SEMUA ATAU SEKELOMPOK ORANG? Penulis: Dr. Yosminaldi, SH.MM (Pemerhati Politik, Demokrasi & Hukum)
"Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian." - Abdurrahman Wahid.
Akhir2 ini Jokowi gemar melakukan banyak manuver2 politik. Mulai dari pengucapan kata "cawe2", terang2an mendukung PSI, menyatakan Presiden boleh berkampanye untuk salah satu Paslon, membela Prabowo di sejumlah kesempatan, bertemu dengan sejumlah tokoh parpol secara informal di beberapa tempat dengan agenda2 santai.
Hal ini menunjukkan Jokowi yang notabene masih sebagai Presiden milik seluruh rakyat Indonesia (karena diberikan amanah dan kepercayaan oleh mayoritas rakyat di pemilu) telah melakukan manuver politik yang tentu saja "meninggalkan" sebagian kelompok rakyat lainnya.
Secara sederhana, Jokowi telah lupa dan mengkhianati amanah rakyat Indonesia yang berharap netral selama tahun politik. Sayangnya, netralitas itu telah dilanggar secara terang2an tanpa ada rasa rikuh dan malu kepada rakyat.
Sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, seorang Presiden memiliki status menjadi MILIK SEMUA. Kepala Negara mengartikan seseorang yang memiliki jabatan Pemimpin untuk seluruh rakyat, negara dan bangsa. Jabatan ini sungguh sangat mulia, agung dan terhormat.
Sedangkan Kepala Pemerintahan adalah Pemimpin Eksekutif yang dengan sejumlah para Menterinya menjalankan roda Pemerintahan sehari-hari untuk kepentingan dan kemaslahatan bangsa secara keseluruhan.
Menilik dan mencermati manuver politik Jokowi yang semakin terang benderang mendukung salah satu paslon, sungguh sangat mencederai nilai2 demokrasi dan melanggar sumpah jabatan sebagai Presiden milik seluruh bangsa Indonesia. Sekali seseorang menjadi Presiden yang menang dalam Pilpres, otomatis jabatan Presiden tsb harus dilaksanakan untuk segenap anak bangsa, bukan untuk sekelompok orang yang sedang berjuang untuk memenangkan pemilu dan pilpres.
POLITIK BER-ETIKA
Secara hukum, tak ada yang dilanggar oleh Jokowi. Semua itu sah dan legal. Namun, perhatian masyarakat terhadap manuver2 politik yang makin "meresahkan" itu, membuat legitimasi dan kredibilitas seorang Jokowi sebagai Presiden menjadi turun.
Manuver2 politik beliau yang terlihat jelas pro kepada satu kelompok koalisi parpol dan capres-cawapres, telah menimbulkan kontroversi di masyarakat. Issue2 yang kontroversial, sudah pasti memunculkan dua kubu, yakni kubu pro dan kubu kontra. Artinya, ada masalah dengan issue tersebut.
Seharusnya seorang Presiden yang memangku jabatan tertinggi sangat mulia dengan amanah dan kepercayaan mayoritas rakyat tersebut, harus menjaga martabat, etika, moralitas serta muruah jabatan sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintah.
Sebagai negara demokrasi terbesar keempat di dunia, para elite politik di negeri ini harus memberikan keteladanan berpolitik yang santun, ber-etika dan tak memunculkan kontroversi yang menghabiskan energi perdebatan antar anak bangsa.
Kita membutuhkan para Politisi yang berkarakter dan berjiwa negarawan. Apalagi seseorang yang sudah mendapatkan amanah mayoritas rakyat menjadi seorang Presiden, harusnya memiliki dan menjunjung tinggi nilai2 etika dan kepatutan moralitas yang anti kontroversial.
Negeri ber-Pancasila ini tak mutlak mendasarkan aktifitasnya pada filosofi dan konsep "rechtstaat" semata sebagaimana disebut dalam Konstitusi negara. Namun justru etika, kepatutan dan keadaban yang santun dan tidak "melukai" nurani logika-rasionalitas akal sehat rakyat, jauh memiliki konsekwensi langsung terhadap legitimasi seorang Pemimpin.
Hukum itu sebuah keharusan untuk ditaati dan dilaksanakan. Namun, prinsip2 kepatutan, etika dan moralitas adalah nurani terdalam nilai2 kemanusiaan di negara Pancasila ini.
Mari kita wariskan berpolitik yang ber-etika, santun, jujur dan beradab kepada para Generasi muda calon pemimpin bangsa masa depan. Negeri ini tak akan berkah jika dijalankan dengan segala manuver2 yang menghalalkan berbagai cara demi sebuah kekuasaan.
Ingat, waktu terus berputar, jabatan tidak untuk selamanya. Ada saatnya kita berhenti menjabat dan waktu akan berbicara (time will tell). Tuhan tidak tidur, Alam semesta menyaksikan, semua kemungkinan bisa terjadi.
Bekasi, 30 Januari 2024
Komentar
Posting Komentar